Welcome to the World of Socialnomics!


Anyone who knows me well is very much aware of the fact that I’m known as “Mr. Technology”! NOT! I’m still learning how to use all of the features on my cell phone. I flush my toilet and the garage door opens! However, I strive to keep up as much as I can with my limited capabilities.

Ironically, I have been encouraging a number of our clients to take advantage of the many technical options available to them today as they strive to compete in a very chaotic and competitive business environment.

I’m also very much a rookie when it comes to social media, although I have recognized its phenomenal growth and the impact it’s having on the business world.

I vividly remember several major clients laughing aloud at the suggestion of investigating the impact and possibilities of utilizing social media. That was two years ago. Today, they are aggressively pursuing the benefits of this new revolution. Sadly, some of them are doing so as a result of watching their competition beat them to the punch.

If you are one of those many who thinks social media is a passing fad and has no place in your life or that of your business or organization, you might be interested in the following information. In fact, you’d BETTER be!

Social media is the biggest shift since the Industrial Revolution!

By the end of 2010, Generation Y will outnumber Baby Boomers!

96% of Generation Y have joined a social network!

Social media has overtaken porn as the #1 activity on the web!

1 out of every 8 couples married in the U.S. last year met via social media!

It took radio 38 years to reach 50 million users.

It took TV 13 years to reach 50 million users.
It took the Internet 4 years to reach 50 million users.
It took the iPod 3 years to reach 50 million users.
Facebook added 100 million users in less than 9 months!
iPod application downloads hit 1 billion in 9 months!
If Facebook were a country, it would be the world’s 4th largest! …
Yet, China’s QZone is even larger with well over 300 million users!

A 2009 U.S. Department of Education study revealed that on average online students outperformed those receiving face-to-face instruction.

1 in 6 higher education students are enrolled in online cirriculum.

80% of companies are using LinkedIn as their primary tool to find employees.

The fastest growing segment on Facebook is 55- to 65-year-old females.

80% of Twitter usage is on mobile devices—people update anywhere, anytime—imagine what that means for bad customer experiences?

Generation Y & Z consider e-mail passe.

In 2009 Boston College stopped distributing e-mail addresses to incoming freshmen.

YouTube is the 2nd largest search engine in the world!

YouTube currently boasts 100,000,000 videos!

WIKI is an Hawaiian term meaning: QUICK.

Wikipedia has more than 13 million articles. Recent studies show it’s more accurate than the Encyclopedia Britannica! 75% of these articles are non-English.

There are more than 200,000,000 blogs. 54% of bloggers post content or tweet daily.

78% of consumers trust peer recommendations … only 14% trust advertisements!

hulu has grown from 63 million total streams in April 2008 to 375 million in April of 2009!

Only 70% of 18- to 34-year-olds have watched TV on the Web and only 33% have ever viewed a show on DVR/TiVo.

25% of Americans in the past month said they watched a short video … on their phone!

35% of book sales on Amazon are for the Kindle!

24 of the 25 largest newspapers in the U.S. are experiencing record declines in circulation.

More than 1.5 million pieces of content (web links, news stories, blog posts, notes, photos, etc.) are shared on Facebook—daily!

SOCIAL MEDIA ISN’T A FAD, IT’S A FUNDAMENTAL SHIFT IN THE WAY WE COMMUNICATE. LEARN ABOUT IT, MASTER IT, USE IT TO YOUR ADVANTAGE!

Advertisements

Sejarah Skema Musik Reggae


Sejarah Skema Musik Reggae

Creative or Crazy :)







Innovative Advertisements



An innovative idea on a large billboard in Amsterdam , Netherlands . It really makes you want that ‘Heineken’.


This is a creative ad by Mini Cooper placed at the Zurich , Switzerland train station. It gives the perception that the Mini Cooper has a large space.

Branding not Advertising


Ini fakta. Orang tidak lagi percaya pada iklan. “Jangan memberi tahu saya tentang apa yang harus saya percayai” adalah reaksi siapa pun yang sedang ditawari produk.

Kecuali jika Anda sudah berkecimpung di dunia usaha paling tidak selama dua dekade dan mempunyai anggaran pemasaran yang besar, Anda memiliki sedikit atau bahkan nol peluang untuk dipercayai. Alasannya adalah karena mereka sudah lama ada, sangat lama sehingga mereka menjadi bagian dari kehidupan saya dan Anda.

Kita semua bisa mengambil contoh-contoh seperti Indomie, Aqua, Pepsodent, dan McDonald untuk menjelaskan tentang nilai fokus, branding yang konsisten, tetapi sejujurnya, mereka ini telah begitu lamanya berkecimpung di dunia usaha sehingga mereka mencapai posisi itu.

Mereka inilah yang pertama ada. Kini mereka dapat beriklan untuk memperkuat posisi mereka. Anda mengetahui siapa mereka dan apa usaha mereka, dan mereka tetap mengingatkan Anda.

Jika saya tidak mencapai tujuan lain apa pun dalam hidup saya, saya akan memilih untuk membantu usaha kecil untuk memahami bahwa mereka bukan usaha besar. Paling tidak, belum.

Oleh karenanya, strategi mereka harus berbeda. Coca Cola, pemimpin industri minuman ringan di dunia, dapat menampilkan iklan di mana pun. Dan hanya dengan menyebut “Coke”, para konsumen akan langsung mengetahui produknya dan di mana mereka dapat membelinya.

Jika Anda menjalankan usaha kecil, besar kemungkinan bahwa orang belum mengetahui siapa Anda, sehingga tidak terlalu tertarik membeli produk Anda. Contoh Coca Cola tadi adalah iklan yang bertujuan menjaga citra merek mereka.

Sasaran iklan perusahaan-perusahaan besar adalah massa, dan perusahaan-perusahaan tersebut percaya diri bahwa telah ada cukup orang yang mengetahui siapa mereka dan menjadi tertarik untuk membeli. Perusahaan-perusahaan besar dapat membicarakan tentang diri mereka sendiri di iklan-iklan mereka.

Usaha kecil Anda tidak dapat. Anda harus berfokus pada kebutuhan dan keinginan pelanggan Anda, karena jika tidak, Anda tidak dapat menarik perhatian mereka. Jadi bagaimana sebuah agensi mengambil keputusan-keputusan terbaik (dan tercerdas) untuk klien mereka jika media iklan mereka terus dikurangi?

Bagaimana mereka dapat dengan jujur terus memberi tahu para klien mereka bahwa cara yang terbaik untuk meningkatkan laba adalah dengan membuat papan iklan yang besar, tepat di samping jalan raya (ruang premium untuk harga premium) dan sedapat mungkin meluncurkan iklan TV sebanyak mungkin (jatah premium untuk harga premium).

Jadi dari semua ini, apa yang tersisa untuk Anda,usaha kecil dan menengah (UKM) yang tidak memiliki kemewahan anggaran iklan yang melimpah? Jawabannya: Branding.

Iklan hanyalah cara untuk mempresentasikan Anda kepada dunia luar. Dari sana masih tergantung keputusan konsumen apakah mereka akan membelanjakan uang hasil jerih payah mereka untuk membeli dari Anda.

Para konsumen Anda perlu mengetahui siapa Anda, perlu percaya kepada Anda atau produk Anda, dan memahami bahwa Anda adalah layanan atau produk terbaik untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Tetapi, bagaimana jika, sebelum pasar Anda membeli dari Anda, alasan mereka membeli hanyalah Anda. Dengan kata lain, mereka telah mempercayai nilainilai Anda, “kisah” Anda, perusahaan Anda yang bagus, bersemangat, tepercaya, dan berawal dari rumah. Mereka telah “memahami” Anda.Yang mereka perlu tahu adalah apa syaratnya dan di mana mereka bisa mendapatkannya.

Jadi izinkan saya bertanya: Tahukah Anda siapa diri Anda? Tentu, Anda tahu apa yang Anda jual, Anda mengerti semua fitur-fiturnya di luar kepala,tetapi siapa DIRI Anda dan hal-hal apa yang Anda wakili? “Siapa peduli?” begitu mungkin pikir Anda. Jika Anda tidak peduli, mengapa konsumen Anda harus peduli pada Anda? Jika Anda tidak mengetahui siapa diri Anda dan nilai-nilai apa yang diwakili oleh usaha Anda, bagaimana orang lain dapat mengetahuinya?

Jika tidak ada yang mengetahuinya, bagaimana mereka dapat membeli dari Anda? Perusahaan Anda menjadi tidak berarti bagi mereka. Anda hanyalah kertas kosong yang tidak memberi manfaat apa-apa bagi mereka. Mari mulai dari dasar.

Pertama, Anda harus ingat bahwa Anda bergerak di bidang usaha di mana Anda harus menjual sesuatu kepada seseorang, yaitu manusia yang hidup, bernafas, mampu berpikir, dan-yang lebih penting lagi–mampu merasa.

Tidak peduli apa pun yang Anda jual dan perusahaan atau kelompok konsumen mana pun yang menjadi sasaran penjualan Anda, di suatu titik pada rantai pengambilan keputusan untuk membeli adalah salah satu dari orang-orang yang hidup dan bernafas ini.

Orang-orang ini adalah manusia, mereka akan membuat keputusan- keputusan ini tidak hanya berdasarkan fakta, tetapi apakah produk Anda menyelesaikan masalah mereka, apakah produk Anda efektif biaya atau efektif waktu; bagaimana perasaan mereka terhadap perusahaan Anda?

Konsumen membuat keputusan tidak hanya dengan otak mereka, tetapi emosi mereka juga. Jadi, amankah untuk mengabaikan faktor emosi ini dan membiarkan pihak lain (pesaing Anda) merebutnya? Ini kabar baiknya: Anda dapat membantu mengarahkan bagaimana perasaan para konsumen Anda terhadap Anda dan serangkaian peristiwa ini terkait dengan satu hal–merek Anda.

Bukan logonya, pernak-perniknya, atau situsnya yang hebat walau semua itu memang faktor yang cukup membantu keseluruhan tampilan dan rasa (perasaan mereka) tentang siapa Anda.

Walaupun kata “merek” (brand) lazim digunakan sehari- hari, penggunaan sebenarnya belum sesuai dengan makna sejati dari kata itu. Pikirkan tentang pertama kalinya Anda bertemu seseorang.

Hampir saat itu juga kesimpulan-kesimpulan diambil tentang siapa diri Anda: apakah Anda dapat dipercaya, periang atau tertutup, lucu atau sangat serius,atau singkatnya, apakah mereka menyukai Anda.

Seperti yang Anda ketahui, jika mereka menyukai Anda, pintu pun terbuka untuk pembicaraan lebih lanjut,dan mereka akan mulai meluangkan waktu untuk bisa bersama dengan Anda.

Jika mereka tidak menyukai Anda (sedangkan Anda ingin mereka menyukai Anda), Anda masih memiliki kesempatan dalam percakapan atau pertemuan Anda berikutnya untuk membangun konduite atau hubungan saling percaya, terutama jika Anda mengetahui hal-hal apa yang menarik bagi mereka.

Intinya, inilah “merek”Anda sebagai seseorang. Menjalankan sebuah usaha juga tidak berbeda. Usaha Anda adalah sebuah entitas yang hidup, bernapas, dan bertumbuh, sehingga perlu tampil menarik untuk para konsumen Anda agar mereka langsung menyukainya.

Dan kalaupun tidak, atau tidak memungkinkan, perusahaan Anda dapat berupaya membangun dirinya sendiri di dalam pikiran para konsumen, yang akan menjadi cara yang lebih mudah dan cepat, jika Anda mengetahui hal-hal apa yang menarik bagi mereka. Dan untuk melakukannya, seperti halnya manusia, usaha Anda perlu mengenal dirinya dan hal-hal yang diwakilinya.(*)

DANIEL SURYA
Chairman South East Asia dm
IDHOLLAND &
MARIO KHOE
Senior Consultant Indonesia dm
IDHOLLAND(Koran SI/Koran SI/ade)

sumber: Okezone

Dont Judge a Book by it’s Cover


Pada suatu sore di mall, seorang anak sekitar 8 tahunan berlari kecil. Dengan baju agak ketinggalan mode, sandal jepit berlumur tanah. Dengan senyumnya kesebuah counter Ice Cream dengan Merk ternama. Karena tubuhnya yang tidak tinggi, dia harus berjinjit di depan lemari kaca penyimpan ice cream. Penampilannya yang agak lusuh jelas kontras dibanding. Lingkungan lantai dasar mall yg megah, mewah, indah dan harum.

“Mbak, Sunday cream berapa ..?”si bocah bertanya.
Sambil tetap berjinjit agar pramusaji dapat melihat sedikit kepalanya,
yang rambutnya sudah lepek basah karena keringatnya berlari tadi.
“Sepuluh ribu !” yang ditanya menjawab.
Lantas si bocah turun dari jinjitannya, lantas merogoh kantong celananya,
menghitung recehan dan beberapa lembar ribuan lusuh miliknya.

Kemudian sigap cepat si bocah menjinjit lagi,
“Mbak, kalo Plain cream yg itu berapa ?” bocah bertanya lagi
Pramusaji mulai agak ketus, maklum di belakang pelanggan yang
Ingusan ini, masih banyak pelanggan “berduit” lain yang mengantri.
“Sama aja, sepuluh ribu !” jawabnya.
Si bocah mulai menatap tangannya di atas kantong, seolah menebak
berapa recehan dan ribuan yang tadi dimilikinya,
“kalo banana split berapa, mbak?”
“Delapan Ribu…!”sedikit menghardik tanpa senyum.

Berkembang kembali senyum si bocah, kali ini dengan binar mata bulatnya yang terlihat senang, “ya, itu aja Mbak, tolong 1 piring”

Kemudian si bocah menghitung kembali uangnya dan memberikan kepada pramusaji yang sepertinya sudah tak sabar itu. Tidak lama kemudian sepiring banana split diberikan pada si bocah itu, dan pramusaji tidak lagi memikirkannya. Antrian pelanggan berdasi dan necis banyak sekali mengantri

Detik berlalu menit, dan menit berlalu hampir 15 kali Si bocah tak terlihat lagi dimejanya, Cuma bekas piringnya saja. Pramusaji tadi bergegas membersihkan sisa pelanggan lain Termasuk piring bekas banana split bekas bocah tadi.

Bibirnya sedikit terbuka, matanya sedikit terbebalak. Ketika diangkatnya piring banana split bocah tadi, dibaliknya. Ditemukan dua recehan lima ratus rupiah dibungkus selembar uang seribuan. Apakah ini? Tips..? Terbungkus sangat rapi.

Terduduk si pramusaji tadi, di kursi bekas si bocah menghabiskan Banana splitnya. Ia tersadar… sebenarnya sang bocah tadi bisa saja. Menikmati Splain Cream atau Sunday chocolate, tapi bocah itu. Mengorbankan keinginan pribadinya dengan maksud supaya bisa memberi tips kepada dirinya. Sisa penyesalan tersumbat dikerongkongannya, disapu seluruh lantai dasar mall itu dengan matanya, tapi bocah itu tak tampak lagi.

Memang baik menjadi orang penting. Tapi jauh lebih penting untuk menjadi orang baik.

Happier People = Stronger Brand


“Podo kabeh…” Sebuah ungkapan dalam bahasa Jawa yang menggambarkan sebuah dunia yang sekarang kita sedang jalani. Kita sekarang hidup dalam sebuah dunia yang penuh dengan kesamaan dengan produk dan jasa sudah tidak dapat dibedakan. Semuanya itu menjadi sebuah komoditas.

Contohnya, kita tahu beberapa waktu lalu diluncurkan sebuah model sepatu atau sandal karet yang berlogo crocodile, tidak perlu menunggu lama, melihat sepak terjang brand tersebut yang meroket, produsen-produsen merek sepatu atau sandal lainnya pun ikut membuat dengan model dan gaya yang sama.

Atau ketika sebuah brand yoghurt muncul dan meraup sukses di pasaran, tidak lama setelah itu banyak sekali bermunculan merek-merek yoghurt lain dan berusaha merebut hati pasar.

Hal-hal seperti yang saya sebutkan tadi memang tidak bisa dihindari seiring dengan perkembangan teknologi yang sangat cepat saat semua informasi di seluruh dunia bisa di dapat dengan sangat cepat.

Hal di atas bisa menjadi kerugian untuk beberapa orang. Namun, marilah kita melihat situasi tersebut menjadi sebuah tantangan bagi khususnya brand-brand lokal untuk bangkit dan menjadi berbeda dengan yang lain.

Bangkit dan menjadi berbeda berdasarkan jiwa dari brand Anda.Ini bukan hanya mengandalkan pada komunikasi yang kencang, tetapi mulailah juga untuk menggunakan kekuatan internal yang Anda miliki,yaitu orang yang bekerja untuk brand Anda. Bergantung sepenuhnya kepada komunikasi saja tidak akan cukup untuk membuat brand Anda menjadi pilihan konsumen.

Sebab, seringkali sales meningkat hanya jika ada komunikasi atau promosi. Saya bisa berkata bahwa awareness bukan lagi menjadi tolak ukur keberhasilan brand Anda.

Sebuah brand yang kuat yang akan menjadi pilihan masyarakat memerlukan keterikatan secara emosional yang kuat dengan customer-nya di mana fitur-fitur secara fungsional tidak lagi bisa menjadi sebuah differentiator.

Saya dan tim percaya bahwa orang-orang yang bekerja dengan Anda adalah salah satu cara yang bisa digunakan untuk membangun keterikatan emosional tersebut. Orang-orang Anda akan mampu membedakan brand Anda dengan brand lain dengan menciptakan sebuah pengalaman brand yang unik, sesuai esensi Anda, khususnya jika Anda berada dalam industri jasa.

Ada lima peran penting yang membuat orang-orang Anda adalah aset penting bagi brand Anda. Pertama, mereka adalah pembuat ide-ide dan inovasi yang brilian. Mereka yang mampu menciptakan terobosan-terobosan untuk brand Anda.

Apple adalah salah satu contoh perusahaan yang mengandalkan orang-orang yang bekerja di dalamnya untuk membangun sebuah diferensiasi. Hal tersebut tertuang dalam perkataan Steve Jobs. Dia berkata, “The people who are doing the work are the moving force behind the Macintosh. My job is to create a space for them, to clear out the rest of the organization and keep it at bay”.

Kedua, merekalah believer dari brand Anda dalam kondisi apapun. Ada sebuah kutipan yang saya kutip dari pemain basket yang terkenal dengan visual banteng pada identitas timnya. Dia berkata, “The motivation they gave me every day to go to my job,even if you look outside is 5 degrees temperature out there”.

Ketiga, orang-orang Anda mampu untuk menunjukkan rasa hormat terhadap customer Anda. Saya menemukan sebuah artikel yang membahas mengenai sebuah maskapai penerbangan. Maskapai tersebut memiliki pramugari yang muda, cantik, dan rupawan, tetapi mereka tidak mencerminkan nilai-nilai dari brand-nya dan hal tersebut membuat image maskapai tersebut menjadi buruk.

Keempat, mereka adalah penentu kualitas dari produk atau jasa kita. Melanjutkan dari poin ketiga, orang Anda merupakan ujung tombak dari brand Anda. Indikasi ini bisa terlihat dengan mudah jika Anda melihat sebuah kolom di Kompas yang berisi keluhan-keluhan dari pembaca.

Keluhan-keluhan tersebut muncul ketika mereka tidak mendapatkan pelayanan yang baik dari brand-brand Anda. Pelanggan Anda dengan mudah sekali memotret kualitas produk atau jasa Anda dari orang-orang Anda. Kelima, peran yang tidak kalah penting adalah mereka adalah pemenuh janji Anda.

Komunikasi yang Anda gunakan di media cetak ataupun media lainnya hanya mampu untuk menyampaikan pesan, tetapi tidak dapat menyampaikan janji Anda terhadap konsumen. Orang-orang Andalah yang akan menjadi jembatan untuk membangun keterikatan emosional antara brand Anda dengan konsumen. Jadi, jagalah orang Anda seperti Anda menjaga brand Anda.(*)

Daniel Surya
Chairman South East Asia dm
IDHOLLAND

Joseph Eko
Executive Manager Brand Humanity,
Senior Consultant(Koran SI/Koran SI/ade)

sumber: Okezone

%d bloggers like this: